Monday, November 18, 2013
Nyenyak
Selamat Pagi, tidur malam tadi begitu nyenyak. Bukan obat tidur atau dingin Bandung yang membuat nyenyak, tapi membayangkan kamulah alasan mengapa saya terlelap.
Bagaimana kabar kamu sekarang? Menurut kabar burung yang saya terima, senyummu semakin lama semakin manis saja. Kukira itu salah besar, bukan manis saja tapi adiktif.
Pagi ini cerah yah...
tak bosan saya membayangkan dirimu lagi hingga lagi dan sangat lagi.
...
Kasur,
18 November 2013
Monday, November 04, 2013
Icakan
Ciamis, angin berhembus cukup kencang, puluhan pepohonan menari mengikuti ritme irama satu, dua, tiga hitungan lalu berhenti tertiup. Mengisyaratkan pelataran tempat saya duduk ini cukup tinggi di atas permukaan laut.
Terlihat segerombolan orang berjalan bergantian melewati masjid satu-satunya di atas bukit ini, tidak pernah kurang dari tiga orang setiap satu perenam menit berlalu-lalang orang jalan.
Mata yang lesu, tersirat dari kibasan cepat beberapa mata pengunjung yang beristirahat di taman rumput gajah, sebuah taman lamping berbentuk persegi panjang, tempat yang baik melihat beragam wahana wisata yang berjajar di bawahnya.
Tempat Wisata Icakan, sebuah kalimat yang tersusun dari kata utama icakan yang memiliki arti tanah yang luas pada bahasa Sunda. Memang luas, sampai burung, capung, dan kumbang tidak hadir disini. Bukan karena mereka tidak mau hadir, tetapi karena ekosistem disini membuat mereka tidak mungkin hidup.
Sepanjang mata memandang, sampah ada dimana-mana: sampah sisa botram, bungkus permen, snack, dan puntung-puntung rokok dengan beragam merek.
Banyak orang terlihat senang tersenyum difoto; tidak apa silahkan senyum dan nikmati pemandangan dengan latar belakang yang anda suka, tapi tolong jangan injak dan kotori rumput dengan sisa makanan Anda.
Ya, seakan dari kita memang sering (menyukai) lupa, berwisata bukanlah hanya sekedar menikmati alam saja, tapi menghidupkan lingkungan tersebut dengan menjadi pengunjung yang baik.
Thursday, September 12, 2013
Semrawutnya Kota Bandung Salah Siapa?
Dipicu dari diskusi kecil dengan
beberapa kawan Komunitas Aleut dan pemenang Mojang Kota Bandung 2012 di gedung Rindam
III Siliwangi Jalan Manado no 3 Kota Bandung. Kami sepakat bahwa
macet dan semrawut adalah dua kata yang mungkin dapat menggambarkan kondisi lalu
lintas Kota Bandung saat ini. Kemacetan sudah menyabar ke beberapa sudut kota,
puncaknya terutama terjadi pada akhir pekan.
Secara umum kemacetan lalu lintas disebabkan oleh beberapa
hal, salah satunya adalah tingkat kepatuhan hukum pengguna kendaraan bermotor
yang masih minim. Coba saja perhatikan pagi hari pada saat jam pergi kerja atau
bersekolah di Jalan Raya Suci, pengendara motor merengsek kesegala arah, bahkan marka
jalan sebagai pembatas antara ruas jalan kiri dan kanan jalan seperti tidak
berlaku lagi, pengendara tanpa sungkan dan riskan melawan arus menerobos lajur
kanan jalan sehingga menimbulkan kemacetan.
Sepintas pengendara kendaraan bermotor ketika lampu menyala
merah langsung merengsek kebeberapa arah, kendaraan bermotor yang ramping
bermanuver ke daerah yang sempit memenuhi ruang-ruang pejalan kaki seperti
trotoar dan zebra cross. Keberadaan zebra cross yang nota bene jalur
kekuasaan hak pejalan kaki menyebrang tersita puluhan motor yang mengantri
seperti serangga.
Etika berkendara sudah terabaikan, banyak pengendara
kendaraan bermotor belum sadar dan dengan seenaknya membuang sampah sembarangan
kejalan. Coba saja anda tegur jika jawabanya tidak disepelekan, tanggapanya
bisa jadi ketus. Dari hal kecil itu saja kita bisa melihat barangkali dari mereka
tidak mengetahui UU No 22. Tahun 2009 tentang Peraturan Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan Raya.
Transportasi Publik
Masalah lainnya yang menjadi penyebab semrawutnya lalu
lintas di Kota Bandung adalah rendahnya keberadaan dan pelayanan transportasi
publik. Masyarakat kota sudah tidak bisa lagi mengandalkan kendaraan yang hanya
muat berisi satu, dua atau empat orang. Saatnya menggunakan transportasi
massal.
Permasalahannya kendaraan massal di Kota Bandung, biaya dan
keamaananya belum terjamin benar. Dibutuhkan peran pemerintah menciptakan pelayanan
terpadu bagi kesejahteraan masyarakat kota. Maka tak heran jika masyarakat
cenderung lebih memilih membeli kendaraan pribadi seperti mobil dan motor sebagai
moda kendaraan transportasi sehari-hari.
Sedikit menghayal, jika saja di Bandung hadir transportasi
tersambung, mulai dari kereta api, bus, monorel dan angkot, semua dibuat dengan
sistem tiket satu atap. Penumpang hanya akan membayar satu kali tarif meskipun
turun berkali-kali dan mengunakan beberapa jenis angkutan umum. Selain itu
untuk menjamin kesajahteraan karyawan, pengaturan tarif diatur oleh satu
lembaga yang khas sekali Indonesia-nya seperti koperasi. Semangat gotong royong
merupakan representasi koperasi.
Sebab=Akibat
Beberapa sebab yang berbeda-beda akan menyebabkan akibat
yang sama. Kesemrawutan lalu lintas Kota Bandung merupakan tanggung jawab
bersama antara pemerintah dan masyarakat kota yang tinggal di suatu wilayah
yang sama. Ada baiknya pengguna kendaraan pribadi mulai memiliki keinginan
mempergunakan angkutan publik dengan syarat pemerintah menjamin tarif dan
kenyamanan transportasi.
Yakinlah solusi mengatasi kesemrawutan transportasi di kota
Bandung bukanlah suatu mimpi yang mustahil dilaksanakan. Permasalahanya banyak
solusi pembenahan kesemrawutan tidak dijalankan sungguh-sungguh, contohnya
Trans Metro Bandung (TMB) belum bisa mengurai kemacetan karena manajemen TMB yang
kelewat buruk, terlihat dari kondisi halte yang kumuh dan pelayanan karyawan
TMB yang kurang ramah.
Ada sebab ada akibat, masyarakat Kota Bandung tidak bisa
terus menerus mengalami kondisi ini, diluar kebijakan pemerintah yang selama
ini sedang berjalan, terlepas apakah sungguh-sungguh atau tidak. Saatnya penduduk
kota memberikan contoh kepada pejabat–pejabat pemerintah yang gemar berwacana,
mari tertib berkendara, menggunakan akses trotoar untuk berjalan kaki sesering
mungkin, menggunakan sepeda jika tidak bepergian jauh, membuang sampah selalu pada
tempatnya, dan mengawasi selalu kebijakan pemerintah.
Kata kunci mengatasi permasalah semrawutnya Kota Bandung adalah
kesadaran akan rasa memiliki tempat tinggal Kota Bandung itu sendiri.
Monday, August 05, 2013
Tanggapan Atas Warga Bandung Yang Tidak Rasional
Sudah berbuat apakah masyarakat Bandung
terhadap kota tempat tinggalnya? Lalu lintas Bandung yang semerawut,
banjir cileuncang, perubahan fungsi lahan hijau, warung kaki
lima yang berjualan di trotoar, sampah yang berserakan
di jalan-jalan adalah pemandangan
sehari-hari yang kerap dapat kita jumpai di
setiap sudut jalan Kota Bandung.
Keadaan lingkungan yang
ruwet merupakan cerminan budaya masyarakat. Di luar persoalan buruknya
infrastruktur dan bobroknya sistem pemerintah kota, keruwetan yang menyentuh segala
aspek yang berada di Kota Bandung menunjukan
banyak orang tidak memikirkan akibat dari tindakanya. Putusan atas berbagai hal
diambil berdasarkan emosi, bukan pikiran rasional.
Diabaikanya rasionalitas
ditunjukan dengan banyaknya orang yang merasa nyiyir terhadap segala ketidak
teraturan dan kekacauan yang hadir di kota, namun tidak berbuat sesuatu apapun dari
fenomena tersebut. Anehnya, rendahnya kemampuan berpikir rasional banyak terjadi
pada mahasiswa yang sebenarnya berada pada kelompok masyarakat terdidik, mahasiswa
membela pedagang kaki lima tanpa mengindahkan hak publik pejalan kaki di
trotoar adalah salah satu contohnya.
Dari penulusuran di berbagai
situs jejaring sosial atau bisa dibilang jejaring nongkrong, banyak orang mengeluhkan beragam masalah kota
dengan berbagai cara: hujatan kepada pemerintah, rasa galau, ataupun tak
peduli sama sekali. Ketidak mampuan
berpikir logis membuat masyarkat kota tidak bisa berpikir akar masalah
penyebabnya.
Coba luangkan waktu untuk
berpikir rasional, mengapa Kota Bandung saat ini kumuh dan sering kali banjir?
Karena banyak dari kita warga Kota Bandung masih membuang sampah sembarangan. Mengapa
bangunan heritage di Bandung banyak yang runtuh lalu berubah fungsinya? Karena
kebanyakan dari kita warga Kota Bandung enggan meluangkan waktu bermain dan
belajar ke bangunan heritage tersebut.
Ya masalahnya, kita enggan
untuk langsung bertindak, mengujungi dan
menghidupkan. Kita sibuk saling mendorong orang untuk melakukan sesuatu di
twitter atau jejaring sosial lainya seolah menciptakan citra diri yang manis
dan kritis, tanpa mau mencontoh berbuat langsung yang pada akhirnya mengendap
menjadi omong kosong.
Lebih baik menjadi inspirator atau inovator daripada
motivator belaka. Lebih baik menjadi
orang yang bodoh tetapi berguna daripada merasa pintar tapi tak berguna.
Masyarakat baiknya ikut andil berperan membangun kota menjadi lebih baik lagi,
perlu di ingat wajah Bandung berada di tangan penduduk Kota Bandung. Semoga tulisan
ini berguna bagi pembaca-pembaca yang
merasa dirinya telah rasional. Semoga.
Friday, June 21, 2013
Manisnya Indiepop
![]() |
| Foto diambil dari sini |
Indiepop adalah manis, nama boleh manis tapi tujuan genre satu ini adalah melawan budaya mainstream dan kapitalisme dengan caranya tersendiri, yaitu memfokuskan nuansa musik pada aspek kenaifan kekanak-kanakan dengan lirik dan melodi manis dan sederhana. Jika dirunut sub-genre yang berkembang di Inggris pada pertengahan 80-han ini merupakan perkembangan dari post-punk yang memang turunan langsung dari punk.
Oleh karena itu, secara tidak langsung Indiepop merupakan Sweet Daughter of Punk. Kesamaan musik punk dan indiepop dapat dilihat dari semangat dan budayanya, bukan progresi dan coraknya yang tentunya berbeda jauh. Budaya atau ideologi yang diambil merupakan semangat Do It Yourself (DIY), Fanzine hingga sikap persamaan gender (egaliterian). Namun pada perkembanganya banyak juga band-band indiepop menolak citra punk, mereka hanya mengambil filosofi DIY mereka dan menulis lirik tentang cinta manis bukan pada isu-isu politik yang berat.
Musik Indiepop jika di analogikan mengesankan gaya seorang pemuda atau pemudi yang terlihat lugu manis, sendirian dan terasingi disudut pintu rumah. Entah karena jatuh cinta yang sulit tersampaikan ataupun seorang kutu buku yang malu-malu. Ciri yang jelas dari setiap musik indiepop adalah permainan petikan-petikan gitar clean nan bergemerincing jangly, tabuhan drum yang sederhana, nuansa yang manis, suara vokalis seperti ke anak-anakan (terdengar seperti malas-malasan) dan lirik-lirik manis yang gila gombal ataupun berbau politik.
The Smiths yang menyedihkan dan Morrisey sang vokalis adalah kultus bintang yang paling penting pada awal dekade indiepop. Kemampuan Morrissey menulis lirik-lirik puitis ala Oscar Wilde dengan bahasan yang kontroversial dan ditambah permainan Johnny Maar yang ciamik, membuat The Smiths menjadi band yang cukup di sorot pada dekade pertengahan tahun 80-an hingga pada perkembanganya saat ini. Mari kita kenalan dengan indiepop dengarkan The Smiths di sini...
Thursday, June 20, 2013
Dalam Mobil
Rasanya mirip cerita film 3 hari
untuk selamanya. Selasa malam, waktu di
isi obrolan di dalam mobil bersama teman saya Ali. Dalam misi mengantarkan
mesin Vespa super ke Banjaran, sepanjang perjalanan kami dipenuhi dialog horizontal membicarakan beragam kegelisahan
menatap masa depan, keterhadiran pemerintah di negeri ini dan masalah keluarga yang menerpa.
Untuk menempuh perjalanan
Bandung – Banjaran yang berjarak kira-kira
12 kilometer dibutuhkan waktu tempuh 2 jam, cukup lama karena kemacetan
mengulat di sekitar Pasar Kordon Ciwastra sampai ujung Jalan Bojongsoang.
Kemacetan diakibatkan penyempitan jalan yang terjadi di awal jalan masuk
Bojongsoang, selain itu traffic kendaraan terpantau padat disebabkan
keberangkatan kami berbarengan dengan waktu jam pulang kantor.
Melihat lalu lintas yang serba
tidak teratur tersadarlah pikiran ini, pemerintah nampaknya tidak memiliki
penataan jelas berapa mobil angkutan umum yang boleh hadir dijalan. Lagian
polisi tidak hadir dijalan yang entah ada dimana, yang mungkin merakapun sama lelah segera cepat pulang
rebahan karena semua serba tidak teratur walaupun mereka berusaha untuk mengatur.
Spontan terpikirkan olah saya, aturan hanyalah sebuah macan
kertas! jalanan di sepanjang Bandung Selatan ini
seperti lintasan balapan difilm death race. Penduduk berjalan
ditempatkan bersama dengan kendaraan
bermotor lainya, trotoar sangat minim sekali, jikapun ada berhati-hatilah trotoarnya rapuh dan ada yang berlubang bisa masuk got!
Pemerintah dimana? Yang saya tahu permerintah baru akan hadir saat menarik
pajak dengan slogan cinta tanah air.
Mumet melihat segala kondisi
yang sangat berantakan, saya gelisah
melihat masa depan bangsa ini dan masa depan kami sebagai orang muda generasi penerus bangsa. lelah sekali
berpikir untuk menciptakan
suasana yang
lebih baik kedepanya. Coba saja ingatkan temanmu jangan membuang sampah
atau puntung rokok sembarangan, dalam kurang waktu berapa jam kedepan,
sampah akan di
buang kembali ketempat sembarangan. Bukan begitu?
Wednesday, June 19, 2013
Kotak Inspirasi
Inspirasi sulit muncul bila dibutuhkan segera, tetapi terkadang inspirasi muncul tidak diundang, semua begitu spontan keluar. Sebenarnya agar Inspirasi/ide brilian yang telah lupa mudah diingat kembali, tinggal catat saja inspirasinya, siapkan saja kertas dan alat tulis kemanampun pergi, selanjutnya simpan dengan baik catatanya. Tapi dasar memang saya selalu jorok menyimpan segala hasil catatan ataupun barang kreatif yang menarik, jadilah banyak menyesalnya.
Tersegeralah mata memandang kardus bekas dan kertas bekas yang terongok di sudut pintu kamar, saya bentuk kardus itu jadi kotak ide, rencananya setiap ide yang didapat disimpan disitu, setiap ingin mencari lagi ilham yang terlupa tinggal ubek lagi aja itu kotak. Beberapa ilham dari barang kreatif yang tersisa sudah diselamatkan ke dalam kardus, terimakasih kardus.
Subscribe to:
Posts (Atom)






