Apa yang terbesit
dipikiran anda jika saya mengatakan bahwa sekolah pada nyatanya adalah suatu upaya
yang dipandang sebagai aktifitas untuk mengisi waktu luang? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhammad Nuh mungkin tidak akan setuju dengan
pendapat saya tersebut, nyatanya jika melihat track record sistem pendidikan di Indonesia saat ini, sekolah
diciptakan hanya sebagai suatu lembaga
yang bertugas menghasilkan menusia-manusia dengan stempel terdidik dan lulus
seleksi uji mutu yang telah dibuat.
Amatilah, apa bedanya
sekolah dengan industri ikan kalengan yang lolos produknya lewat seleksi mutu pengujian
yang terstandarisasi? lembaga pendidikan seperti sekolah sekarang telah menjadi
industri transfer ilmu, bukan lembaga pendidikan manusia yang mengemban misi
menciptakan manusia berkarakter dan piawai menyelesaikan masalah dengan acuan
dasar ilmu pengetahuan.
Salah satu
permasalahan generasi muda kita saat ini yakni tidak kreatif, bisa jadi dari
dahulu disuapin melulu penyebabnya. Lihat saja bagaimana guru mengajarkan muridnya di sekolah, Ibu dan pak guru memberi materi dari buku yang
dibaca, lalu menulis semuanya di papan tulis, tidak lama kemudian bimsalabim
murid-murid menyalin tulisan guru tersebut dengan sama persis. Masih mengalami
hal tersebut?
Tengok banyak
sekolah berseliweran dengan kriteria bermacam-macam yang disesuaikan harga,
lalu lembaga bimbingan belajar ikut pula menjamur mengisi kekurangan materi
pembelajaran yang tidak diajarkan di sekolah. Orang tua kiranya berlomba-lomba
ingin membuat anaknya menjadi super pintar, namun untuk apa juga mencipta
manusia super pintar jika kemampuan menalarnya tak diasah? Pintar tapi tidak
berkarakter dan berintergritas hanya akan menciptakan robot.
Sinyalemen
rendahnya kemampuan menalar masyarakat dapat dirasakan dari bagaimana sikap
masyarakat pada saat ini yang umunya lebih memperhatikan kenyamanya sendiri
dibanding kepentingan masyarakat umum, seperti sikap buang sampah sembarangan,
menyebrang bukan pada tempatnya ataupun berjualan di trotoar.
Di sekolah
pendidikan bernalar terus di dengungkan, namun hasilnya kurang terasa. Menurut
saya pembudayaan menalar di negeri ini gagal diterapkan, pendidikan menalar
kalah populer dibanding pendidikan sains atau ilmu lainya. Padahal kemampuan
bernalar adalah hal penting, seperti pabrik pencipta manusia berkepribadian unggul.
Muatan pembelajaran
lebih baik selalu disusupi pendidikan bernalarnya melalui kegiataan diskusi-diskusi
dengan tujuan memancing kesadaran dan pendapat original individu untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada, jadi sebaiknya tinggalkan pengajaran “disuapi”.
Sekolah adalah
mengisi waktu luang menurut saya, sekolah bukan lembaga transfer ilmu dan
bukan pula sebuah industri perternak penghasil karyawan. Mengisi waktu luang
berarti mengisi waktu dengan sesuatu yang bermanfaat, tapi jika kita paksakan
waktu luang sesorang untuk melakukan sesuatu yang belum tentu diterima individu
tersebut (dijejeli paksa) pastilah tidak akan menghasilkan apa-apa, alhasil terjadi
transfer ilmu saja tidak membangunkan.
Terakhir, sepantasnya
menjadi renungan bahwa nilai rapot atau Indeks penilaiaan kumulatif tidak
selalu dijadikan acuan, tapi aculah seberapa cepat dan tepat individu tersebut dalam menyelesaikan
masalah. Bukankah tujuan pendidikan adalah untuk
menyelesaian setiap problematika masalah yang ada? Bukan untuk mendapatkan
nilai yang besar dari pintar menjawab soal? Jadi untuk apa bersekolah?





No comments:
Post a Comment