Dataran tinggi Bandung orang menyebutnya, sebuah kota yang dikenal
karena udaranya yang sejuk dengan pemandangan jajaran pegunungan yang memanjakan dua mata. Bangunlah pagi sekali jika anda tidak percaya, temukan
keindahan pegunungan yang mengelilingi kawasan Cekungan Bandung, lalu duduklah
diatas balkon atau loteng rumahmu sambil tersenyum. Amatilah, Kota
Bandung di kelilingi gunung menyala.
Monday, June 17, 2013
Sunday, June 16, 2013
Mereka Menangis Menjadi Sampah
Tengoklah meja di sekililing food court yang sedang anda kunjungi, lalu perhatikanlah dan lakukan observasi kecil. Di sepanjang meja panjang tempat menaruh sajian makanan dan minuman yang akan kita pesan, terkadang kita akan menemukan makanan yang masih bersisa seperti nasi yang masih menggunung, keju, atau lauk-pauk yang teronggok dengan beragam sayuran pencuci mulut.
Pemenuhan atas nafsu lapar di perut menjadi biang keladi ritual mengkonsumsi makanan secara bebas, hal ini dipicu oleh indra penglihatan dan penciuman. Para petani dan tukang masak mungkin akan tersenyum senang jika sayur mayur yang ditanam pada cuaca anomali akhir-akhir ini dibeli dan dimakan habis. Lain cerita jika terbuang, orang tua dulu bilang mereka akan menangis karena menjadi sampah.
Tolong ingatkan kepada kawanmu di sebelah, kebanyakan dari kita terkadang lupa akan keterkaitan sumber daya alam dengan segala barang konsumsi yang ada. Atau mungkin terlena merasa segala rempah, sayuran, dan lauk pauk begitu melimpah di Indonesia jumlahnya? Ingatlah sekarang cuaca dan musim sulit diprediksi, realitasnya lingkungan dan ekosistem di balik barang konsumsi tidak berdiri sendiri.
Ketika kita membuang bahan makanan menjadi sampah, secara tidak langsung artinya kita ikut andil dalam menyia-nyiakan sumber daya alam, juga bisa diartikan sebagai menyia-nyiakan kerja manusia yang ikut berperan dalam bagian rantai produksi, serta berperan dalam ketidakadilan pada mahluk lain yang tidak berkesempatan mendapatkan bahan makanan.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), setiap tahun 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-sia. Disisi lain, setiap hari satu dari tujuh orang di dunia tidur dengan perut lapar, dan lebih dari 20.000 orang anak-anak balita mati akan kelaparan. Fakta lain menyebut, produksi makanan secara global menguasai 25 persen lahan yang bisa didiami manusia, membutuhkan 70 persen air bersih, 80 persen deforestasi, dan 30 persen penyebab Gas Rumah Kaca (Memahami manusia sebagai suaka. Kompas, 5 Juni 2013, hal 15)
Data di atas memberikan sebuah indikasi bahwa proses produksi bahan konsumsi juga ikut mendorong perubahan fungsi lahan dan keanekaragaman hayati global. Karena masalah utama manusia secara ekonomi adalah pemenuhan kebutuhan yang tidak seimbang dengan jumlah bahan yang ada, dan akhirnya menyebabkan terjadinya kelangkaan. Semua akan menjadi terbatas/langka jika sumber daya alam tidak dirawat dengan baik sehingga ujung-ujungnya kenaikan harga pada bahan-bahan konsumesi.
Pada akhirnya pertanyaan akan muncul, masihkah kita bertahan dengan gaya hidup menyia-nyiakan bahan makanan yang akan kita konsumsi? renungkan dan tanyakan pada diri anda sendiri, perubahan dimulai dari kesadaran kecil anda.
Saturday, June 15, 2013
Mencoba Sesuatu Yang Baru
Apa jadinya kalau hari-hari diisi dengan
kegiataan yang sama? Hasilnya pasti akan
membosankan. Sebenarnya banyak kegiataan yang bisa dilakukan meskipun waktu terkadang
tidak memihak untuk melakukanya, kegiataan kecil yang tidak memakan waktu
banyak tapi sarat akan makna. Pagi hari dengan mata masih belekan saya coba
iseng foto-foto suasana kamar apa adanya, melalui lensa kamera waktu bisa
direkam dan mungkin saja foto hasil jeprat-jepret iseng pagi ini akan menjadi
kenangan berarti dikemudian hari.
Friday, June 14, 2013
Untuk Apa Bersekolah?
Apa yang terbesit
dipikiran anda jika saya mengatakan bahwa sekolah pada nyatanya adalah suatu upaya
yang dipandang sebagai aktifitas untuk mengisi waktu luang? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhammad Nuh mungkin tidak akan setuju dengan
pendapat saya tersebut, nyatanya jika melihat track record sistem pendidikan di Indonesia saat ini, sekolah
diciptakan hanya sebagai suatu lembaga
yang bertugas menghasilkan menusia-manusia dengan stempel terdidik dan lulus
seleksi uji mutu yang telah dibuat.
Amatilah, apa bedanya
sekolah dengan industri ikan kalengan yang lolos produknya lewat seleksi mutu pengujian
yang terstandarisasi? lembaga pendidikan seperti sekolah sekarang telah menjadi
industri transfer ilmu, bukan lembaga pendidikan manusia yang mengemban misi
menciptakan manusia berkarakter dan piawai menyelesaikan masalah dengan acuan
dasar ilmu pengetahuan.
Salah satu
permasalahan generasi muda kita saat ini yakni tidak kreatif, bisa jadi dari
dahulu disuapin melulu penyebabnya. Lihat saja bagaimana guru mengajarkan muridnya di sekolah, Ibu dan pak guru memberi materi dari buku yang
dibaca, lalu menulis semuanya di papan tulis, tidak lama kemudian bimsalabim
murid-murid menyalin tulisan guru tersebut dengan sama persis. Masih mengalami
hal tersebut?
Tengok banyak
sekolah berseliweran dengan kriteria bermacam-macam yang disesuaikan harga,
lalu lembaga bimbingan belajar ikut pula menjamur mengisi kekurangan materi
pembelajaran yang tidak diajarkan di sekolah. Orang tua kiranya berlomba-lomba
ingin membuat anaknya menjadi super pintar, namun untuk apa juga mencipta
manusia super pintar jika kemampuan menalarnya tak diasah? Pintar tapi tidak
berkarakter dan berintergritas hanya akan menciptakan robot.
Sinyalemen
rendahnya kemampuan menalar masyarakat dapat dirasakan dari bagaimana sikap
masyarakat pada saat ini yang umunya lebih memperhatikan kenyamanya sendiri
dibanding kepentingan masyarakat umum, seperti sikap buang sampah sembarangan,
menyebrang bukan pada tempatnya ataupun berjualan di trotoar.
Di sekolah
pendidikan bernalar terus di dengungkan, namun hasilnya kurang terasa. Menurut
saya pembudayaan menalar di negeri ini gagal diterapkan, pendidikan menalar
kalah populer dibanding pendidikan sains atau ilmu lainya. Padahal kemampuan
bernalar adalah hal penting, seperti pabrik pencipta manusia berkepribadian unggul.
Muatan pembelajaran
lebih baik selalu disusupi pendidikan bernalarnya melalui kegiataan diskusi-diskusi
dengan tujuan memancing kesadaran dan pendapat original individu untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada, jadi sebaiknya tinggalkan pengajaran “disuapi”.
Sekolah adalah
mengisi waktu luang menurut saya, sekolah bukan lembaga transfer ilmu dan
bukan pula sebuah industri perternak penghasil karyawan. Mengisi waktu luang
berarti mengisi waktu dengan sesuatu yang bermanfaat, tapi jika kita paksakan
waktu luang sesorang untuk melakukan sesuatu yang belum tentu diterima individu
tersebut (dijejeli paksa) pastilah tidak akan menghasilkan apa-apa, alhasil terjadi
transfer ilmu saja tidak membangunkan.
Terakhir, sepantasnya
menjadi renungan bahwa nilai rapot atau Indeks penilaiaan kumulatif tidak
selalu dijadikan acuan, tapi aculah seberapa cepat dan tepat individu tersebut dalam menyelesaikan
masalah. Bukankah tujuan pendidikan adalah untuk
menyelesaian setiap problematika masalah yang ada? Bukan untuk mendapatkan
nilai yang besar dari pintar menjawab soal? Jadi untuk apa bersekolah?
Monday, February 18, 2013
Ca-Bau-Kan
Sutradara: Nia Di Nata
Pemain: Ferry Salim, Lola Amaria, Niniek L. Karim, Irgi A. Fahrenzi, Alex Komang, Robby Tumewu, Tutie Kirana, Henky Solaiman, Alvin Adam, Maria Oentoe.
Tahun Rilis: 2002
Judul Internasional: “The Courtesan”
Pemain: Ferry Salim, Lola Amaria, Niniek L. Karim, Irgi A. Fahrenzi, Alex Komang, Robby Tumewu, Tutie Kirana, Henky Solaiman, Alvin Adam, Maria Oentoe.
Tahun Rilis: 2002
Judul Internasional: “The Courtesan”
Diadaptasi dari novel berjudul Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa) karya Remy Sylado, Ca-Bau-Kan menjadi film yang pertama mengangkat
tema budaya dan bahasa Tionghoa di Indonesia pada zaman kolonial Belanda.
Film debutan Nia Di Nata sebagai sutradara, produser dan
merangkap penulis skenarionya ini merupakan film pertamanya yang mengangkat tema kaum minoritas di Indonesia. Pada film ini Nia Di Nata seakan
ingin menunjukan pesan kepada penonton bahwa kaum minoritas Tionghoa tidak bisa
dianggap tidak ada, Nia seperti percaya bahwa masing-masing keunikan di dunia
ini dapat memperkaya dinamika masyarakat secara umum.
Patutlah dihargai keberanian Nia Di Nata pada debut filmnya
ini menyuguhkan tema yang jarang diangkat pada umunya. Kebranian membuat film
keluar jalur mainstream menjadikan
film ini pelepas dahaga yang beda bagi penikmat film-film Indonesia.
Salah satu yang menarik untuk diamati pada film ini adalah
bagaimana unsur sejarah melekat kuat
pada setiap adegan. Bagaimanapun membuat
film bertema sejarah merupakan suatu yang sulit, bukan hanya dari segi cerita,
pemilihan detail pakaian, setting
tempat, dialek tokoh, set artistik dan hal-hal kecil lainya perlu sebaik
mungkin tersesuaikan dengan kekuataan cerita yang ada. Maka wajar saja total
dana yang digunakan untuk membuat film ini mencapai lima miliyar.
Secara garis besar setting
cerita film mencakup tiga zaman sejarah perkembangan Indonesia, pada zaman kolonial
Belanda tahun 1930-an, pendudukan Jepang pada 1940-an, hingga pasca kemerdekaan tahun
1960. Bercerita tentang seorang wanita Indonesia
Giok Lan (Niniek L. Karim) yang mencari kembali latar belakang hidupnya. Pada
usia senjanya ia lalu memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk mencari asal
usulnya. Film ini kemudian beralih ke masa lalu mengupas kisah seorang Ca Bau
Kan (perempuan simpanan) bernama Tinung (Lola Amaria) yang memiliki beragam kisah
memilukan.
Sebagian besar cerita film ini menceritakan kisah cinta
antara seorang pribumi dan seorang Tionghoa asal Semarang bernama Tan Peng Liang
(Ferry Salim). Selanjutnya kisah cinta pada film ini diwarnai dengan persaingan
perdagangan tembakau dan juga bagaimana terlibatnya seorang etnis Tionghoa memperjuangan
kemerdekaan Indonesia.
Butuh beberapa saat agar mata dan logika menjadi terbiasa dengan
cerita visual yang disuguhkan, terutama pada tokoh-tokohnya yang awalnya sulit
untuk teridentifikasi jelas. Adegan beberapa pemain memang terlihat cukup natural,
terutama Ferry Salim yang berperan menjadi Tan Peng Liang pria Tionghoa yang flamboyan. Di sisi lain ada
beberapa yang sangat disayangkan pada film ini, posisi tokoh Tinung (Lola Amaria) sebagai
seorang Ca-Bau-Kan terhempaskan ditelan
alur cerita. Padahal Tinung merupakan salah satu tokoh utama
dalam film ini. Sangat disayangkan puncak penderitaan Tinung kurang terasa menyengat
pada film ini, Tinung akhirnya menjadi jugun ianfu di masa Jepang dan kemudian
di tahun 1960 kehilangan suami yang terlihat getir tapi kurang mengena.
Terlepas dari kekurangan yang ada, film ini enak untuk
ditonton bersama-sama atau sendirian. Bagaimanapun film selalu membawa unsur budaya,
dari film ini kita bisa banyak belajar bagaimana etnis Tionghoa di Indonesia
bergitu beragam karena alkulturasi dengan budaya setempat. Selain itu kita juga bisa melihat kenyataan yang
ada bahwasanya sejarah mengungkapkan bahwa Tionghoa di Indonesia dahulu-pun ternyata
ikut juga berperan membantu kemerdekaan bangsa ini. Indonesia adalah cita-cita
luhur dari keberagaman yang ada. Film ini sedikit banyak menggambarkan hal tersebut.
Sumber Foto:
Tantri06.Dimuat di http://thoughtsofstupidbookworm.files.wordpress.com/2013/01/cabaukan-all.jpg.Diakses 5 Januari 2013.
Monday, February 11, 2013
The Upstairs - Katalika
![]() |
| The Upstairs - Katalika |
Mungkin saja pemberian nama The Upstairs bertujuan mengambarkan secara singkat bagaimana group bergenre nyentrik New Wave ini mempunyai materi diatas group band lain. Katalika menunjukan kelasnya. Jadi sudah lupakan cerita berapa kali band ini ditinggal personil, karena personel baru yang dipimpin komandan Jimmi "Danger" Multhazam yang eksentrik dengan gaya slengean selalu membuat nuansa lagu menjadi menarik.
Tabuhan drumm Benny Andhiantoro yang juga berperan sekaligus produser menghasilkan suatu yang menyenangkan telinga. Lagu-lagu di album Katalika selalu merebut hati dan tak bosan. Seperti di album-album sebelumnya Jimmi si ahli lirik yang nyentrik dan unik selalu menjadi penyumbang kekuatan materi lagu The Upstairs. Siapa musisi di Indonesia yang bisa memasukan unsur-unsur kimia langsung ketubuh manusia pada satu lagu? mungkin hanya Jimmi The Upstairs yang bisa, inilah mengapa materi The Upstairs selalu barada di tingkat atas band lain.
Sekelebat Menghilang, Layak Dikenang dan Selamat Datang Di Tubuh Kami, merupakan nomer yang menarik untuk didengar sambil berdendang.
Tabuhan drumm Benny Andhiantoro yang juga berperan sekaligus produser menghasilkan suatu yang menyenangkan telinga. Lagu-lagu di album Katalika selalu merebut hati dan tak bosan. Seperti di album-album sebelumnya Jimmi si ahli lirik yang nyentrik dan unik selalu menjadi penyumbang kekuatan materi lagu The Upstairs. Siapa musisi di Indonesia yang bisa memasukan unsur-unsur kimia langsung ketubuh manusia pada satu lagu? mungkin hanya Jimmi The Upstairs yang bisa, inilah mengapa materi The Upstairs selalu barada di tingkat atas band lain.
Sekelebat Menghilang, Layak Dikenang dan Selamat Datang Di Tubuh Kami, merupakan nomer yang menarik untuk didengar sambil berdendang.
Apalah Arti Sebuah Nama
Nederlanders waarom terug naar Europa? Blifft in indie! Zig die reeds zijn ver trokken, kom terug en vestigt U in Bandoeng.Nederlander, mengapa pulang ke Eropa? Tetaplah tinggal di Hindia! Yang sudah pulang, kembalilah dan tinggal di Bandung.(Wolzogen Keuhr, Mooi Bandung 1933)
Wali Kota
Bandung Wolzogen Keuhr pada edisi perdana majalah Mooi Bandung berani
mempromosikan Bandung karena kota ini begitu indah dan menawan hati. Pernyataan
Wali Kota Bandung kala itu tentu saja dapat dipertanggung jawabkan
kebenaranaya, buktinya sebelum tahun 1933 Bandung telah memiliki banyak julukan
seperti Parijs Van Java (Paris di Jawa),
Garden of Allah (Taman Tuhan) dan Bleomen Stad (Kota Kembang).
Keadaan kota
Bandung yang baik dan nyaman tentu saja tidak lepas dari tokoh-tokoh yang
membangun Kota Bandung pada masa lalu. Keteraturan, kenyamanan, dan kerapihan
kota merupakan suatu tuntunan yang wajib diimplementasikan sebagai tanggung
jawab pucuk pimpinan kota. Selain itu warga kotapun mempunyai kewajiban yang
sama dalam arti ikut berpartisipasi menjaga keindahan kota, melalui kerjasama
yang apik inilah pemerintah dan masyarakat kota dapat menghadirkan keadaan Kota
Bandung yang nyaman.
![]() |
| Pieter Sijthoff |
Kisah
kebangkitan Kota Bandung dahulu salah satunya diawali oleh peran pemimpin kota
yang cakap dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan warga kota. Keberhasilan
program yang dijalankan oleh Vereeniging
tot nut van Bandoeng en Omstaken (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat
Bandung dan Sekitarnya) yang dipimpin ketuanya yaitu Asisten Residen Priangan Pieter
Sijthoff merupakan salah satu kunci suksesnya pembangunan Kota Bandung tempo
dulu.
Pada
perjalananya Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya ikut
serta dalam membangun, melengkapi, dan membenahi bangunan fisik kota, serta
meningkatkan kesejahteraan warga kota dengan begitu nyata. Melalui beragam
program diantaranya: meningkatkan mutu jalan kota, meningkatkan kondisi
bangunan ditepi jalan raya menjadi permanen berikut pemberlakukan garis sampedan,
membangun beberapa sekolah dan perpustakaan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan warga kota, Membantu para pedagang membangun tempat berjualan baru
(Pasar Baru) sebagai pengganti Pasar Lama Ciguriang yang terbakar akibat
kerusuhan Munada.
Resisten
Priangan Pieter Sijthoff bukanlah orang yang paling berjasa atas pembangunan
Kota Bandung, karena dibalik sukses Pieter Sijthoff berdiri Bupati R.A.A
Martanegara yang tercatat memodernisasi Kota Bandung diantaranya: Rumah-rumah
penduduk pribumi yang masih beratapkan ilalang diganti dengan genting,
meningkatkan kondisi kualitas jalan-jalan di Kota Bandung dengan perkerasan
batu alam, membangun kantor dagang perusahaan Eropa dan Bank,
membangun saluran kanal buatan bersumber dari Sungai Cikapayang yang
berfungsi mengairi taman-taman kota, merubah rawa-rawa sumber penyakit Malaria
di Kota Bandung menjadi lahan produktif persawahan dan kolam ikan.
Diceritakan juga
dalam sebuah risalah tahun 1919 yang ditunjukan kepada Walikota Bandung pertama
B Coops, telah dilaporkan hasil penelitian dan penelaahan E.H Karsten menyoal
penyebaran pusat perekonomian Kota Bandung. Dari hasil risalah yang terkenal
dengan Plan Karsten itulah Walikota Bandung pertama B Coops membuat kebijakan
yang secara nyata membuat ekonomi Kota Bandung berkembang pesat melalui
penyebaran pusat-pusat perdagangan yang ketika itu berpusat di Pasar Baru saja. Pembangunan beberapa
pasar dipadukan dengan pembangunan
halte-halte kereta api baru merupakan langkah cerdas sebagai upaya dekonsentrasi
pusat perekonomian yang dapat kita rasakan wajahnya hingga kini.
![]() |
| (Tengah) Walikota Pertama Bandung B Coops. |
Kemunduran Bandung
Berbeda
dengan dahulu, kegagalan mengantisipasi pertumbuhan penduduk dengan sarana dan
prasarana yang ada telah mengubur keindahan Kota Bandung. Selain itu rencana tata
ruang wilayah yang sekedar hitam diatas
putih menambah kerumitan masalah kota Bandung kini. Babakan Siliwangi misalnya,
penamaan wilayah yang sempat disematkan bersama sebagai hutan kota seharusnya
tetap konsisten hingga kini.
Ketidak berpihakan peran Wali Kota Bandung untuk menjaga kawasan paru-paru utama kota mengindikasikan acuhnya pemimpin kota atas aspirasi masyarakat kota. Wali Kota lebih mementingkan kepentingan pengusaha yang ingin merubah sebagian wajah bentuk hutan kota, menurut saya wanprestasi bukan menjadi alasan yang kuat pemberian izin mendirikan bangunan (IMB), demi keberpihakan masyarakat banyak kenapa mesti harus takut melanggar perjanjian? sadarilah bahwasanya pada zaman sekarang ini hal yang membuat seorang individu tidak mau melakukan hal yang benar hanyalah ketika individu tersebut menolak untuk menerima konsekusensi. Teladani lagilah cerita sejarah bagaimana tokoh-tokoh pergerakan Indonesia berjuang demi masyarakat banyak. Coba mulai kembali membaca buku sejarah.
Ketidak berpihakan peran Wali Kota Bandung untuk menjaga kawasan paru-paru utama kota mengindikasikan acuhnya pemimpin kota atas aspirasi masyarakat kota. Wali Kota lebih mementingkan kepentingan pengusaha yang ingin merubah sebagian wajah bentuk hutan kota, menurut saya wanprestasi bukan menjadi alasan yang kuat pemberian izin mendirikan bangunan (IMB), demi keberpihakan masyarakat banyak kenapa mesti harus takut melanggar perjanjian? sadarilah bahwasanya pada zaman sekarang ini hal yang membuat seorang individu tidak mau melakukan hal yang benar hanyalah ketika individu tersebut menolak untuk menerima konsekusensi. Teladani lagilah cerita sejarah bagaimana tokoh-tokoh pergerakan Indonesia berjuang demi masyarakat banyak. Coba mulai kembali membaca buku sejarah.
Apalah arti sebuah nama, sebuah nama akan menjadi harum bermakna jika individu tersebut berjuang, berkorban, dan berguna demi kepentingan orang banyak. Para tokoh kota Bandung diatas setidaknya telah mengajarkan kita banyak hal, keberpihakan demi kesejahteraan masyarakat banyak adalah tujuan yang harus diutamakan dari segala kepentingan individu. Bukan dengan memamerkan baliho wajah dengan prestasi-prestasi yang tidak relevan dengan kenyataan disetiap sudut kota, tapi biarlah fenomena ini menggambarkan bahwa seorang kepala daerah tidak cukup dikenal rakyatnya sehingga perlu meningkatkan awareness.
Percayalah, ketidak pedulian kita akan lingkungan kota membawa korban, korbanya adalah diri kita sendiri. Menurut saya jalan paling bijak pada fenomena yang ada sekarang ini adalah pencerdasan masyarakat, menumbuhkan kesadaran kepada setiap individu untuk menjaga kota. Semua pasti bisa menularkan karena semua punya rasa cinta kota tempat tinggal. Mari dari sekarang kita belajar bersama secara konsisten, kenali lingkungan kita, bermain langsung ke objeknya, hidupi objek tersebut dengan cerita, berfoto bersama dan hal macam lainya, terakhir mari kita berbagi kepada masyarakat dunia melalui catatan-catatan menarik kita.
Daftar Pustaka:
Damardono, Haryo dan Setianingsih, Dwi “Menerawang Masa Depan Bandung”. Kompas, 18 Januari 2013. Hlm. 33.
Kunto, Haryono. 1985. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung : Granesia.
Daftar Gambar:
Katam, Sudarsono & Abadi, Lulus 2005. Album Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung.
Kampung indian.2013. Dimuat di http://kampungindian.blogspot.com/2013/02/bcoops-walikota-pertama-di-bandung.html Diakses 2013.
Agusprast.2011.Dimuat di http://engineear.net/2011/09/13/lambang-kota-di-indonesia-dahulu-dan-sekarang-bagian-1/ Diakses 13 September 2011.
Subscribe to:
Posts (Atom)

















